RSS

Wanita Karir, Menikah atau Tidak?



Saya teringat ketika jaman muda dulu, lulus kuliah, bekerja di Jakarta, punya uang gaji sendiri, beli apa yang kumau, lakukan apa yang kuinginkan, bekerja full time hingga malam, boss senang punya anak buah super rajin, tidak ada yang menunggu di rumah karena belum punya tanggungan keluarga. Tetapi euforia itu hanya berjalan selama setahun, pada tahun kedua saya mulai berpikir apa yang kurencanakan untuk masa depanku. Mau jadi wanita pekerja yang mempunyai karier?, sekolah terus sampai ke negeri China?(begitu kata pepatah: tuntutlah ilmu hingga ke negeri China), atau berpikir seperti ordinary woman, wanita biasa saja?

Menurutku semua wanita mempunyai daya tarik tersendiri, hanya saja sering kita terlalu angkuh kepada lawan jenis ketika masih muda, siapa sih dia? Memangnya dia lebih pinter dariku? Memangnya dia punya masa depan yang lebih cerah daripadaku? Tentu saja waktu itu yang terpikir andai saja saya punya pacar seperti sophan sopian, cakep, ngetop, sugih eh kaya. Tanpa pernah berpikir siapa sih saya ha ha ha. Padahal temanku sejak SMP sudah ada yang bilang ”mau gak kamu jadi pacarku?” yang kutinggal lari dan jadi benciiiii sekali padanya. Juga ketika SMA dan perguruan tinggi.

Setelah melampaui angka 25, saya mulai berpikir. Akhirnya kubikin list berupa diagram alir secara sistematis dan kuberi point untuk setiap kriteria, mana yang sesuai bagiku. Menyedihkan sekali mengapa kisah cintaku kok tidak bisa seromantic seperti kisah di film Romeo and Yuliet atau di film Titanic ya?

Alangkah senangnya merasakan kebebasan itu, tetapi ketika saya akhirnya setuju untuk diajak dolanan geni (”bermain api”) dan dolanan omah omahan (”bermain rumah rumahan”), kok rasanya mak nyesss, adeeem begitu yaa? Ada yang peduli dengan kita, jam berapa pulang, naik apa, membicarakan masa depan bersama, ada bahu tempat kita meletakkan kepala ketika lelah dan ada tangan yang menggandeng ketika menyeberang. Orang tuapun senang karena kini ada yang bertanggung jawab dengan putrinya.

Kebebasan Yang Hilang

Yang namanya dua pribadi bertemu dalam satu atap, tahulah sendiri, sama sama punya ego. Beberapa rekanku memilih mundur dari ikatan pernikahan dalam 3 bulan masa pernikahan, benar benar seumur jagung. Ada yang beralasan istrinya tidak virgin lagi, ada yang istri tidak mau melepas pekerjaan dan mengikuti suami, dan semuanya itu orang orang educated, antara heran dan tidak, kok dibuat rumit seperti itu. Mau rumit atau simpel sebenarnya khan bisa dirembug bersama. Yang jelas rasanya di dalam pernikahan memang harus saling berkorban.

Berkorban itu bisa besar dan kecil. Berkorban keyakinan misalnya, ini merupakan pengorbanan besar bagi seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang berjalan dalam agama sebagai ageming ati (pakaian jiwa). Ada juga yang menginginkan agama dalam sebuah keluarga hanya boleh satu saja dengan mengibaratkan bahwa dalam satu kapal hanya boleh ada satu nahkoda, ya begitulah itu keputusan masing masing pasangan.

Bagi seorang wanita pekerja yang biasa mandiri, kemudian harus bergantung pada suami rasanya sangat berat sekali. Atau yang biasa pergi kemanapun dengan memutuskan segalanya sendiri, kini harus minta ijin pada suami. Hal ini bisa menjadi masalah besar. Pergi bertugas keluar daerah atau LN misalnya, atau studi lanjut. Sebelah hati ada di rumah sebelah hati lagi ingin maju dalam karier. Tak jarang jika seorang wanita pekerja akan bertugas keluar kota untuk beberapa hari, ia harus menyiapkan masakan jadi di kulkas, belanjaan, sementara kalau suami yang pergi isterilah yang harus menyiapkan segala sesuatunya. Semuanya tidak menjadi masalah asal ikhlas dan kata kuncinya adalah komunikasi.

Bagaimana dengan pengorbanan kecil?, banyak sekali ragamnya. Contohnya saya dan suami sama sama berkorban. Dulu saya senang sekali masakan yang dicampur pete, apalagi pete yang digoreng setengah matang dan sambel terasi, waaaa asyiiik betul. Tetapi semenjak menikah hingga kini, tidak pernah sekalipun makan pete lagi, yang sering kulihat dengan pandangan mengenaskan ketika terhidang pete kukus di rumah makan sunda, halah segitunya. Bagaimana lagi wong suami anti banget dengan pete, wah masa mudanya benar benar kurang bahagia, belum tahu rasanya pete goreng.

Nah hal yang sama terjadi dengan kebiasaannya merokok. Saya selalu mensyaratkan mandi dulu, cuci rambut, ganti baju, jika akan beradegan ranjang. Dia mengeluh ”banyak sekali upacaranya”,katanya, daripada tidak tercapai ’cita citanya’ diapun nurut. Tetapi ternyata yang membuatnya berhenti merokok sama sekali adalah ketika kami mempunyai baby. Inginnya ketika pulang untuk segera menggendong si Tomat baby kami, apa daya begitu dicium ayahnya, si Tomat lalu weeeks mengeluarkan Asi yang baru diminumnya. Akhirnya dengan kesadaran sendiri ia menghentikan kebiasaan merokok, yang kubantu dengan menyediakan berbagai cemilan dan permen, sehingga dalam 2 minggu bisa berhenti sama sekali hingga kini.

Ada satu kisah, saya bertemu dengan rekan gadis dari Indonesia di Jp, cerdas, cantik, mandiri, punya segalanya rumah, mobil, karier. Ia bercerita padaku ingin melanjutkan studinya S-3, usianya menginjak kepala 3. Kami berbincang santai di kamarku, kukatakan padanya mengapa tidak menikah dulu, sebab pria biasanya ngeri dengan wanita yang lulusan S-3, mohon maaf, kecuali kalau tidak ingin menikah. Ia bercerita bahwa ibunya mencarikan jodoh untuknya, tetapi begitu kenal dan tahu sifat calon pasangan ia langsung ngaciiiir, dan ini terjadi sampai lima kali! Takut tidak diijinkan sekolah lagi, takut dilarang beli ini itu, takut disuruh menanggung beban keluarga calon suami. Wah yaaa memang pernikahan itu tidak mudah. Menurutku sifat boleh berbeda, tetapi bukan persamaan sifat yang diperlukan, melainkan bisakah menjadi pasangan yang dapat diumpamakan bagaikan kuali yang pas dengan tutupnya?

Berusaha Menjaga

Ibu memberikan nasehat kepada kami kedua putrinya, karena ibuku juga seorang wanita pekerja maka beberapa nasehatnya yang rasanya cukup relevan kubagi untuk Kokiers.

Nasehat 1:

”Nduk, meskipun kelak, pendidikan, penghasilan maupun jabatanmu lebih tinggi daripada suami, tetaplah menghormatinya, jangan sekali kali mengatakan misalnya ini milikku tetapi katakan ini milik kita, dan katakan ini semua untuk anak kita bila kamu sudah memiliki anak”.

Ya, hal ini adalah masalah rawan, seringkali wanita pekerja merasa finansial adalah segalanya. Bicara finansial itu seperti memegang gelas kristal, kalau tidak hati hati bisa hancur berkeping. Artikan sendiri yaa, pokoknya pamali bilang ”ini milikku”.

Nasehat 2:

”Nduk, di jalan banyak ”setan”, jangan sampai ”setan” itu ikut masuk ke rumah”.

Yang dimaksud adalah di luar rumah pasangan kita bisa saja menjumpai banyak masalah, entah pekerjaan, kemacetan, kekecewaan dalam pekerjaan dll. Maka jangan bebani dengan hal hal yang memberatkan. Begitu pulang sediakan minuman panas atau dingin, ditawari mandi air hangat bila pulang malam, mendengarkan keluhannya, mudah mudahan menghilangkan ”setan” agar tidak masuk ke rumah. Ada yang komplain, penjajahan bagi wanita?, barangkali nasehat ibuku ini terasa kuno tetapi kujalankan saja.

Ada satu contoh masalah pulang larut. Rekanku bercerita bahwa istrinya menelponnya ketika jam 2 malam ia belum pulang. Kukatakan itu terlalu telat, bagiku batasnya jam 10, biasanya suami sudah memberi tahu sebelumnya akan pulang jam berapa, jika tidak saya akan berinisiatif menelpon untuk menanyakan pulang jam berapa. Biasanya kutinggal tidur dan terbangun ketika ia membuka kamar dan menemaninya. Kadang ia menggoda, ”Nah ini sudah mandi air panas, terus disuruh ngapain”,kujawab ”ya sudah kalau gak butuh, aku mo tidur lagi”. Dia tertawa dan menarikku lalu klik, kunci kamar, sorry ceritanya disensor sampai sini saja.

Hal sebaliknya terjadi, teman wanitaku berangkat dengan kereta paling pagi pukul 05.30 dan pulang dengan kereta jam 20.00. Untunglah mendapat pasangan yang saling mengerti, jika tidak .....yaaa sekali lagi harus kompromi.

Nasehat 3:

”Nduk, layani suami dulu jika ada acara apapun di rumah jangan pernah berikan hidangan sisa untuknya”.

Nah ini maksudnya begini, yang namanya ibu ibu di Indonesia itu khan banyak acara, arisanlah, pengajian di rumahlah, inilah itulah. Selalu sediakan hidangan untuk suami lebih dahulu, sehingga kita tidak merasa bersalah ketika among tamu, sewaktu waktu ia pulang misalnya, sudah tersedia hidangan untuknya. Iapun merasa dihargai.

Nasehat 4:

”Nduk, jangan biarkan kemarahan bermalam, ibu tidak pernah pisah kamar dengan ayahmu”.

Pernah suatu ketika ketika masih muda banget, kukunci kamar dan kusuruh tidur di kursi tamu karena ia melanggar janji, ketika itu egoku masih sangat besar. Hanya sekali itu saja kulakukan dalam usia pernikahan kami. Jika kemarahan dibiarkan bermalam besoknya bisa saja berlanjut, nah ini berbahaya.

Beberapa tahun lalu iparku menanyakan kepada suami ”mas, sering berantem gak sama mbak, masak gak pernah sih?”,dia menjawab ”Wah dik itu khan jaman muda dulu, sekarang capeklah” hi hi ini jawaban tanpa kupelototi lho.

Banyak nasehat yang bisa diperoleh dari buku counselling pernikahan, yang penting mau tidak kita menjalaninya. Saya tidak harus menyikat sepatunya, siapa saja diantara kami yang sempat. Yang pasti pernikahan adalah hasil kompromi. Dan bagi wanita pekerja sepertiku, sangat berterima kasih masih diijinkan untuk berlanglang buana, berbagi tugas, berbagi segalanya, seperti tulisnya ketika kami chatting kemarin:”lakukan apa yang menjadi keinginanmu, kutahu kamu akan kembali ke rumah sayaaaang”. Ya hampir 25% dari umur pernikahan kami yang hampir dua dekade ini, kami tidak bersama entah dia atau saya yang saling meninggalkan. Long distance relation karena pekerjaan, hal seperti ini sekarang sudah banyak dijalani oleh banyak pasangan, antar kota, bahkan antar negara, kuakui ini bukan contoh yang baik, kalau biasa tentu tidak perlu dibuat contoh.

Komunikasi adalah kunci bagi model hubungan seperti ini, saya bahkan tahu apakah PRT kami masuk atau tidak hari ini, masak apa hari ini, acara dan kegiatan suami serta apa yang dilakukan anak meski berjarak ribuan kilometer. Untunglah kini komunikasi begitu mudahnya, meski kadang saya terdiam sejenak ketika si Tomat menelpon: ”Ibu, Tomat pengen makan masakan ibu, Tomat bosan makannya beli terus” atau si Brindil mengatakan; ”Ibu, kalau ibu pulang nanti, Brindil gak mau les lagi, Brindil cape, mau diajar ibu saja”. Kami biasa terbuka dalam komunikasi, bukan hanya ijin suami saja akan tetapi juga anak anak, maka ketika kutanya”Apakah menurutmu ibu harus pulang sekarang”, si Tomat dan si Brindil mengatakan tidak perlu. Meskipun demikian hal ini sering membuatku bertanya pada diri sendiri, seperti judul film jadul ”Apa yang kau cari Palupi”.Alangkah mahalnya harga yang harus kubayar dalam mengejar ”bayang bayang”.

Maka jika anda adalah wanita pekerja dan masih jomblo, barangkali pengalamanku dapat menjadi cermin, jangan pernah takut untuk berjalan seiring antara menjadi seorang ibu dan wanita pekerja, mudah mudahan anda mendapat pasangan yang dapat mengerti sepenuhnya.

Mungkin saya bukanlah istri dan ibu yang sempurna, tetapi dengan kepercayaan sebesar itu, alangkah tidak beradabnya jika saya sampai menghianati kepercayaan suami dan anak anak tercinta. Bagaimana jika sebaliknya? Aah.......itu adalah nasib.

Salam dari Osaka 
(Dari Seorang Gadis Indonesia di Negeri Sakura)

(Sumber: dari blog lain yang lupa alamatnya)

0 comments:

Post a Comment

© Liyanku 2013